Senin, 29 Juni 2009

Hiduplah untuk Yang Maha Hidup


By Ali Margosim

Lima belas tahun perenungan semenjak saya Mumayyiz, akhirnya saya berkesimpulan bahwa hidup ini akan bermakna hidup, lebih hidup, sungguh-sungguh hidup ketika hidup yang pendek ini di arahkan untuk Yang Maha Hidup, Allah swt.

Harta yang melimpah, kedudukan yang tinggi, popularitas, anak-anak yang menggemaskan, serta istri yang cantik,...Semua itu ternyata adalah fanah. Sedetik pun tak kuasa dipertahankan, apalagi dibawa ke dalam kubur. kekecewaan pun mulai berdatangan. Yang disangka akan setia membersamai hidup ternyata lari dari dugaan.

Hanyalah Allah Yang Kekal selama-lamanya. Saya Pilih DIA, karena DIA tak pernah lari dari hatiku. DIA selalu ada dan hadir menemani detik-detik hidupku. Dia tak pernah mengecewakanku...Karena ia Kekal. Ya Allah...terimalah hambaMu ini, yang sepenuhnya bergantung padaMu...

Selasa, 23 Juni 2009

FILOSOFI CAHAYA


Cahaya berfilsafat dengan keberadaannnya yang terang-benderang. Menjadi lambang kesadaran, cahaya berjalan lurus menyibakkan kegelapan. Di lautan malam yang dalam, cahaya menembus kelam menjelma bintang-bintang.
Di langit, cahaya yang diwakili oleh matahari, bintang terdekat dengan bumi, mengirimkan terang ke bumi, membuat kita bisa memandang jutaan benda yang berwarna-warni. Cahaya mengantarkan kita bisa memandang perubahan cuaca dan denyut kehidupan. Karena eksistensinya, bisa kita saksikan keluasan alam semesta yang beraneka ragam dengan panoramanya yang elok permai, kita temukan benda-benda yang besar dan kecil, yang keras dan lunak, yang kusam dan cerah, juga yang penuh warna. Menjadi lambang kesadaran yang menjelma gairah dan kesegaran, cahaya tak pernah berhenti menyeruak kebekuan.
Di dalam diri kita, di rongga dada ini ada nurani, yaitu hati yang mengandung nur, mengandung cahaya. Dengan selalu dalam keadaan sadar dan sabar, kita akan benar-benar paham akan baik dan buruk, taat dan ingkar, setia dan khianat, berkata benar dan dusta, adil dan sewenang-wenang, jujur dan curang, ikhlas dan culas. Bersama cahaya, bisa kita pilih kebaikan, ketaatan, kesetiaan, kebenaran, keadilan, kejujuran, ketulusan hati. Dalam limpahan cahaya, kita semai niat yang tulus dan hati yang kudus, kita tempuh jalan yang lurus, seraya kita sibakkan tirai kegelapan, kita suntingkan terang di hati terang di bumi bersama nuansa damai ceria, cinta suci mulya dan keindahan warna-warni.(pelajaran kedua dari pak guru Sukmawan YM)znu4bqmjev

Senin, 22 Juni 2009

FILOSOFI SAMUDRA


Samudara yang sangat luas dan dalam itu berfilsafat dengan keluasan dan kedalamannya, dengan kedinamisan gelombangnya, dengan keelokan panoramanya seiring tiupan angin sejuk menyegarkan.
Dalam keluasan dan kedalamannya, samudera berfilsafat dengan kemampuannya yang tak terbatas untuk menampung keluh kesah segala muara. Silakan beribu muara dari setiap sungai menjadi tempat lewat jutaan kubik air limbah yang keruh dan beracun setiap hari, namun lautan tak pernah menolaknya. Tak berapa lama setelah air penuh limbah masuk ke rahim samudera, segenap limbah dengan racun dan kekeruhan itu segera sirna. Racun-racun itu menjadi netral oleh asinnya garam samudera. Kekeruhan itu larut dan lenyap ditelan keluasan dan kedalaman samudera.
Permukaan laut begitu indah, keluasannya yang tak bertepi berpadu dengan lengkung cakrawala, warna-warni awan, pantai yang berkelok-kelok sampai jauh, nyiur melambai, gerumbul dan kehijauan menjadi panorama elok permai yang sungguh-sungguh tidak pernah membosankan untuk dipandang. Permukaan laut begitu indah, namun kedalaman samudera yang mengandung terumbu karang, kerajaan batu karang dengan ganggang-ganggangnya yang menari-nari dan milyaran ikan beraneka rupa dan warna, jauh lebih indah lagi. Sungguh alangkah indahnya jika hati kita pun bisa seluas dan sedalam samudera. Hati yang demikian ini, dilanda jutaan kubik kata-kata,sikap dan perbuatan yang mengandung racun, kekeruhan limbah dan polusi fitnah dan caci maki keji, tetap tidak bergeming, tidak teracuni, bahkan punya kesanggupan untuk menawarkannya. Bisakah hati kita seluas dan sedalam samudera?
Di samping memiliki panorama elok nian di permukaan dan kedalamannya, di dasar samudera ada tiram, lokan yang menyimpan mutiara yang sangat berharga. Ibarat samudera,di dasar jiwa kita pun hendaknya terbentang mutiara-mutiara akhlak yang memperindah kehidupan.
Seumpama samudera, kuinginkan hatiku selalu sabar dan setia, bisa menjadi tempat curhatan dan sharing, bisa memberikan solusi atas problem-problem yang ada. Samudera tak pernah diam melantunkan gita persaudaraan. Samudera dengan dinamis gelombangnya dengan kecipak ombaknya yang tak pernah henti memeluki pesisir landai, tak kunjung henti mencapai pantai yang berkelok-kelok, tak pernah diam, akan selalu menyapamu, melantunkan salam padamu.

Jumat, 24 April 2009

Indonesia Untuk Dibangun Bukan Untuk Dihabiskan!


Merdeka.
Satu kata yang tak pernah luput di hati kita. Satu kata yang seharusnya selalu menggema disanubari kita selaku generasi muda, generasi harapan bangsa. Satu kata yang selayaknya menjadi renungan terpanjang kita agar tahu dengan bangsa kita. Satu kata yang terlalu berharga untuk dilupakan. Sayang, kita dewasa ini begitu muda lupa dan melupakan sejarah bangsa kita sendiri.
Kawan, pernahkah kita membayangkan berapa ribu ember darah segar membasahi bumi yang kita diami ini selama 353,5 tahun dari bangsa penjajah? Bukankah ini harga dari sebuah kata “merdeka” yang kita miliki sekarang ?
Kawan, ada berapa ratusan juta nyawa yang melayang untuk harga sebuah kemerdekaan ini? Ada berapa juta para wanita, ibu-ibu dan gadis menjadi korban nafsu para penjajah, mereka yang terbunuh, dibunuh, dirampas kesuciannya hingga kemerdekaan bangsa ini bisa kita cicipi seperti sekarang ?
Kawan, ada berapa juta anak-anak yang terbunuh, meraung kesakitan, menangis keras, mati kelaparan, terbunuh, dibunuh oleh para penjajah biadab sana demi sebuah kemerdekaan ini ?
Kawan, ada berapa ratus ember air mata yang mengalir selama tiga setengah abad lebih itu, air mata para pejuang negeri ini, penduduk yang hartanya dirampas, kehormatan hidupnya direnggut, jiwanya dihabisi, para pahlawan yang ditahan dengan setumpuk siksaan tanpa ujung oleh penjajah biadab itu, demi sebuah kemerdekaan ini?
Wahai saudara, belumkah cukup semua itu bagimu untuk menghargai seberapa besar dan tingginya nilai dari kata “merdeka” yang kau rasakan sekarang ini ? Belumkah cukup semua itu bagimu untuk menghargai jasa para pahlawan bangsa ini ? Belumkah cukup semua itu bagimu, agar kau tak semudah itu melupakan sejarah bangsa ini, nasib bangsa ini, air mata dan darah bangsa ini. Semudah itukah kau melupakan ?
Belumkah cukup semua itu bagimu, agar kau mau mengisi kemerdekaan bangsa ini dengan sesuatu yang membuat mereka para pahlawan kita sedikit tersenyum, merasa terobati rasa sakit di jiwa mereka, merasa terobati airmata dan darah mereka. Seharusnya kau harus tahu dengan semua ini.
Saudara, marilah kita menyadari apa yang telah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini ? Apakah dengan korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, dengan kebohongan, moral yang tercabik-cabik, tontonan esek-esek, perselingkuhan para artis dan tetek bengeknya, obral janji para pemimpin, generasi narkoba, pemuda-pemudi pemalas ? Tidak!
Saudaraku, berikanlah apa yang bisa kau berikan buat negeri ini. Kau berakhlak baik, maka pertahankanlah. Kau bisa disiplin maka disiplinlah. Kau bisa jujur maka jujurlah. Kau mampu professional maka profesionallah pada setiap tanggung jawabnya.
Kau bisa memberi apa ? Kau bisa memberikan sekuntum mawar, kataku, maka berikanlah sekuntum mawar buat negeri tercinta ini.
Saya yakin kita sependapat dengan Jhon F Kennedy. Dia berkata,”Janganlah kau bertanya apa yang Negara berikan kepadamu. Tapi, coba tanyakanlah apa yang bisa kau berikan untuk negeri ini. Salam dahsyat!(znu4bqmjev)

Hidangan Terindah dari Neraka.


Narkoba : Narkotika dan obat-obat terlarang. Mari kita melihat pada salah satu bagian narkoba saja yaitu ganja. Apakah yang salah dari ganja ? Sebenarnya tak perlu takut dengan ganja. Ganja adalah rahmat bukan objek yang dimusuhi, dimusnahkan dan di persalahkan. Kenapa hal ini terjadi ? Karena salah penggunaan.
Kawan, ganja adalah rahmat karena ia dibutuhkan dalam dunia kedokteran. Ia menjadi bagian utama dalam proses pembedahan. Dengan demikian, ganja bukan untuk dikonsumsi, kawan. Ganja menjadi laknat ketika ia dijadikan hidangan terindah dari neraka, dikonsumsi untuk menjadi bersenang-senang.
Berdasarkan penuturan mantan pecandu ganja, salah seorang dari mereka bercerita : “Kalau kau pengen tahu, bagaimana dunia tiba-tiba menjadi surga. Jiwa saya melayang-layang di udara dengan angin sesejuk angin dari telaga al kautsar. Burung-burung terbang bersama saya. Saya terbang sesuka hati sembari berkelakar dengan burung-burung genit itu. Matahari tidak panas dan tidak pula dingin tapi sesejuk yang tak bisa dibayangkan. Di surga itu tersedia air putih bening yang manis, air susu dan air arak yang memabukkan. Saya sangat merasakan nikmatnya mencicipinya.
Begitupula dengan makanan lezat, buah-buahan, semuanya ada. Bidadaripun mengelilingi kami. Mereka tempat yang paling menyenangkan untuk berbagi cerita.”
Kawan, setelaah ia bercerita yang begitu menggoda sekali kiranya. Lalu dia menangis tersungkur, sembari berkata, “Sobat, semua diatas hanyalah angan-angan belaka, ilusi belaka, tak bermakna secuilpun. Yang ada hanya sejuta penderitaan yang berbuah penyesalan tak terbantahkan. Kau harus tahu itu bahwa narkoba adalah hidangan terindah dari neraka. Oleh karena itu saya sarankan jangan pernah coba-coba kalau kau takut dengan neraka dan azab dunia.
“Bila kau sobat telah mencobanya walau satu kali saja. Jangan banyak lagi berharap akan masa depanmu. Tak lagi berguna sejuta impian yang kau bangun, tak lagi berharga sejuta impian yang kau bangun, tak lagi berharga sekuat apapun kau sekolah selama ini. Tak ada lagi nilainya kau bersahabat, berteman, dan bersaudara. Tak akan ada lagi arti hidupmu kecuali Allah swt berkehendak lain. Wallahu alam bhissowab.” Begitulah ujar ia yang kian hari makin dekat dengan Tuhan itu. Bahkan, prediksi saya ia layak dipanggil ustadz untuk sekarang ini.
Kawan, belumkah juga tergugah pintu hatimu untuk lebih berhati-hati dari ajang coba-coba dengan narkoba ? Belumkah juga kau akan lebih berhati-hati dari suguhan, rayuan dan bergaul dengan para pecandu narkoba? Saya rasa sudah saatnya kita lebih waspada dan lebih mendekat kepadaNya. Sekali lagi kawan, katakan tidak pada narkoba!
Salam dahsyat!

Ilmu Tembus Limit dari Imam Syafi’i


Siapakah itu Imam Syafi’I ? Darimanakah ia berasal ? Siapakah gurunya ? Siapakah orang tuanya ?Maaf, saya tidak mengupasnya pada tulisan kali ini. Pertimbangan saya tidak lagi menuliskannya dilandasi oleh hal-hal berikut. Pertama, beliau Imam Syafii telah populer, selalu menjadi bahan pembicaraan banyak ustadz, ustadzah, kiyai, syeikh, dan para guru. Kedua, beliau Imam Syafii sangat layak diketahui oleh kita sebagai pemuda pemudi islam. Hal ini dikarenakan keteladanan beliau yang luar biasa. Ia adalah salah satu figur kebanggaan islam dulu dan sekarang. Dengan demikian sahabatku, pertanyaan pertanyaan diatas adalah tugas kita semua. Oke !
Kawan, membicarakan keteladanan, kecerdasan dan kegigihan dari sang Imam membuat kita kian terpesona, kenapa tidak, diusia beliau 7 tahun beliau sudah hafal 30 juz Al quran. Di usia beliau 9 tahun beliau sudah hafal dan memahami isi al quran secara menakjubkan. Di usia 10 tahun beliau dikenal sebagai Mufti (ulama besar) yang telah berdakwah inten di tengah-tengah masyarakat. Beliau di usia 15 tahun telah berdakwah dari satu daerah ke daerah lain.
Kawan, kita tentu masih ingat akan kisah ketika Imam Syafii mengunjungi Pondok Pesantren Imam Maliki di usia yang teramat muda(seusia para santri menengah). Dari banyak riwayat, Imam Syafii mengaku bahwa Imam Maliki adalah gurunya. Kembali ke kunjungan Imam Syafii tadi. Di pondok gurunya tersebut ia minta diajari kitab al muwatta (menurut berbagai sumber kitab al muwatta adalah karya fenomenal sang guru). Imam Syafii membutuhkan waktu 9 hari mempelajari kitab tebal itu. Ia paham dan hafal isinya. Imam Maliki sang guru benar-benar takjub.
Kawan, di pondok pesantren terkenal Imam Maliki itu ada ribuan santri yang sudah bertahun-tahun disana bahkan ada yang sudah belasan tahun untuk mengkaji kitab al muwatta yang sangat tebal itu. Anehnya lagi belum ada satupun santri yang sukses mengkhatamkannya apalagi menghafal. Tapi hal itu tidak pada Imam Syafii, beliau hanya butuh Sembilan hari saja. Luara biasa, dahsyat bukan?
Kawan, kita tentu ingin tahu, apa sih rahasianya Sang Imam besar itu? Jurus apakah yang ia pakai? Alangkah hebat sekali ketika satu atau dua jurus saja kita ambil untuk kita. Karena semua kita pasti ingin seperti beliau.
Kawan, ternyata memang 2 jurus saja yang ia miliki. Kedua jurus ini adalah jurus handal beliau. Imam Syafii pernah membocorkan kepada murid-muridnya akan dua jurus itu. Dua jurus itu adalah :
1.Manajemen Waktu.
Kawan, seperti apakah Imam Syafii membagi waktunya? Ternyata sederhana sekali, dan….. konsisten. Dari pukul 6 pagi hingga pukul 6 sore beliau berdakwah. Berbagai kegiatan dakwah beliau lakukan. Seperti memberikan kajian, silaturahmi, mengajar murid-muridnya. Bila pukul 6 sore telah menanjak. Malam pun beliau bagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama (4 jam)untuk beribadah kepada Allah swt. Bagian kedua, (4 jam) lagi beliau gunakan untuk menulis. Dan 4 jam sisanya untuk beristirahat.
Seperti itulah si jenius Imam Syafii menata waktunya. Beliau begitu disiplin dan istiqomah. Hal hal itulah yang mengantarkan diri beliau makin sukses dan makin hebat tentunya. Nah kawan, bagaimana dengan kita ? Kita yang dijuluki generasi muda-penerus harapan bangsa Indonesia ini? Sudahkah kita mengoptimalkan waktu-waktu kita ? Kalau ternyata masih jauh panggang dengan api, sungguh belum terlambat kawan. Kita masih bisa. Kita mau kita bisa, siip kan!
2.Jurus Breakthrough kedua adalah jurus maju
Jurus maju ini berbunyi,”Berlelah-lelahlah dalam hal kebajikan, karena dalam kelelahan itu ada kenikmatan tak terhingga.
Kawan, sungguh tepat kiranya jurus diatas dinamakan jurus maju. Sebuah jurus yang menghendaki kita untuk terus menabur benih kebajikan, semisal membantu orang lain, bekerja dengan professional, beribadah dengan khusuk, menjaga silaturahmi sekaligus menyambungkannya kembali bila terputus, meringankan beban orang lain, tidak membuat keonaran/kegelisahan, murah senyum(ingat senyum yang tulus adalah sedekah), suka bersedekah/ infak, dan lain-lain.
Kawan, berniat baik saja sebanyak-banyaknya adalah juga bagian dari jurus maju ini. Katakanlah dalam sehari ada 10 saja niat baik kita, dan terlaksana dua saja, sungguh betapa besar pahala dari Allah swt. Kira-kira saudaraku, saudara akan diberi pahala sama dengan pahala 10 niat baik ditambah 2 amal kebajikan. Jadi ada 12 pahala kebajikan.
Nah, bila kawan punya 100 niat kebajikan dalam sehari dan terlaksana 3 saja saudara telah mendapatkan 100 pahala baik ditambah 3 amal kebajikan. Luar biasa, dahsyat benar!
Kawan, amalkanlah dua jurus tembus limit luar biasa ini, tidak perlu lagi kawan berkaca diri, siapa saja, dari daerah mana saya berasal, dimanapun dan kapanpun saya, saya tetap pilih dan aplikasikan dua jurus ini. Selagi konsisten(istiqomah) dan ikhlas, insyaallah…sukses dunia akhirat!
Salam dahsyat!

Indonesia Raya, Dimanakah Kau Kini ?


Kawan, ayo sejenak kita nyanyikan lagu kebanggaan bangsa kita ini!
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negeriku
Bangsaku rakyatku
Semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka, Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Air mata menetes tak serasa membanjiri pipiku yang berjerawat. Apakah kau juga merasakan, Kawan?
Indonesia memanggil, Kawan!Takkah kau dengarkan panggilannya, suara ibu pertiwi di lapangan sana? Dengarkan kawan, tanggapilah seruan beliau. Kitalah harapan beliau, generasi muda bangsa ini. Atau bukankah kita generasi harapan bangsa ini?? Tidak! Kita adalah generasi harapan bangsa ini. Kitalah yang akan menyelamatkan bangsa ini. Kita pula yang memperjuangkan harkat dan martabat bangsa ini.
Kawan, bila kau bertanya,”Indonesia Raya, dimanakah kau kini ?” Jawablah dengan lantang.
“Indonesia Raya ada disini (dalam hatimu)!”
Salam dahsyat!