Rabu, 08 April 2009

Mau Kemanakah, Kawan!


Ali Margosim Chaniago

Pergaulan bebas kian merajalelah, membobol jantung--merasuki jiwa—meracuni segenap akal sehat.
Saudaraku, kegelisahan jiwaku menatap fenomena berjangkit ini kian memburuk. Hal ini dikarenakan saya juga generasi muda, yang menjadi bagian dari generasi harapan bangsa ini. Dari waktu ke waktu rasa itu terus bergejolak dan tambah membengkak. Dari jiwaku ini, harapan besar bangsa yang kudengar selama ini dari pidato-pidato pembesar negeri ini semisal menteri pemuda dan olah raga, menteri pendidikan dan kebudayaan telah memandul sendirinya. Tak lagi menghujam ke bumi dan apalagi menjulang ke langit biru.
Kulihat, mereka yang sebaya denganku bangga dengan berkumpul kebo, hubungan di luar nikah, freeseks, hedonism, liberalisme, barat-baratisme,dan isme-isme neraka lainnya.
Nafasku kian sesak ketika kehormatan para gadis tak lagi dipertahankan. Dengan begitu gamblang menjadi barang obralan dipojok-pojok keramaian dan bangunan tua. Moralitas dan harga diri tak lagi menjadi kebanggaan. Sungguh telah hampir sama lenguhan kerbau dengan rintihan kemasyukan dan teriakan kesakitan prostitusi.
Saudaraku, lihatlah kebodohan ini dengan mata terbuka, hati terbuka dan otak waras. Dan, kau lihat pulalah ibu pertiwi menangis. Ya, ibu pertiwi bersedih sepanjang kau tak pernah berubah.
Kau sudah saksikan, bahwa bumi ini tak lagi seceriah di tahun-tahun awal kemerdekaan. Bumi telah sering marah, betapa sering ia menumpahkan banjir pada negeri ini, tanah longsor, gempa hingga tsunami sekalipun. Bumi tak lagi sesubur di zaman nenek moyang kita. Gersang dan tandus.
Lihatlah, lihatlah kembali bahwa ibu pertiwi belum berhenti menangis. Aku melihatnya, saya melihatnya dikala sang saka merah putih terpasang dan siap dinaikan. Saya melihatnya, dikala lagu kebnagsaan “Indonesia Raya” mulai dinyanyikan. Disaat itu, air mata ibu pertiwi kian deras, menatapmu sekalian, kita semua yang seolah-olah telah lupa dengan jati diri.
Saudaraku, kita orang Indonesia. Generasi pancasila, yaitu generasi yang mengaku dan berjanji setia untuk : Berketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.
Saudaraku, biarkanlah orang Amerika, orang Eropa, Rusia, dan lain-lain menjadi diri mereka sendiri. Sekiranya tidak perlu kita iri pada kevulgaran mereka, liberalisme mereka, dan freeseks yang menjadi kebutuhan mereka.
Seharusnya kita bangga dengan jati diri bangsa kita baik secara konseptual maupun kultural yang telah ada pada diri kita. Kita adalah bangsa yang berkebudayaan tinggi ditandai dengan masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai malu, ramah tamah, berjiwa social (tepa selira) tinggi, dan pintar-pintar. Negeri kita adalah negeri yang diberkati Tuhan oleh karena jati diri kita selama ini.
Saudaraku, mengapakah kita meninggalkan jati diri bangsa yang begitu tingginya, yang telah melekat pada bangsa ini? Bukankah ini merupakan peradaban mulia yang dicita-citakan oleh manusia sepanjang masa ? Lalu, atas alasan apakah kita bangga dengan budaya kebarat-baratan yang jelas-jelas sangat rendah/hina dihadapan manusia apalagi dihadapan Tuhan? Jawablah dengan nuranimu…
Mau kemanakah, Kawan!

Katakan Tidak Pada Kemalasan


Ali Margosim Chaniago

Saudaraku, betapa banyak orang yang kuat fisiknya di sekitar kita. Betapa banyak orang yang mampu secara material maupun non material diantara kita. Betapa banyak orang yang punya kesempatan diantara kita. Dan, Betapa banyak pula orang yang berkelebihan diantara kita. Namum tak sedikit diantara kita seolah-olah tidak menyadarinya. Fisik yang kuat, kekayaan materi, punya peluang, dan kelebihan lainnya seakan-akan berlalu seperti angin saja. Tak berbekas, tak membawa perubahan berarti untuk perubahan itu sendiri. Sementara hidup butuh perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah menjadi lebih baik hingga yang terbaik.
Rasulullah saw bersabda : “Dua nikmat manusia sering lalai atasnya yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”(HR.Muttafaqun ‘alaihi)
Sebuah kemenangan, prestasi terbesar hanya mampu digait oleh mereka yang jumlahnya sedikit. Mereka hanya dalam hitungan jari dari ratusan hingga ribuan orang yang berkesempatan. Tentu kita bertanya,”Kenapa hanya sedikit orang yang benar-benar berhasil?” Ada juga yang berani menyalahkan Tuhannya sendiri. Mereka berkata,”Tuhanmu telah berbuat tidak adil. Ia hanya mengasihi beberapa orang saja dari kami.” Mereka benar-benar lupa betapa Allah swt telah berbuat seadil-adilnya kepada mereka. Namum mereka masih saja mengumpat. Dan tetap pada kemalasan mereka.
MALAS-lah yang menjadi pemisah antara hopes dengan action sehingga tak pernah terwujudkan. Agenda tinggal agenda tersusun rapi dalam buku harian. Rencana tinggal rencana tak lagi digubris. Impian menjadi bumbu kekosongan prestasi. Tiap hari hanya bisa bermimpi tapi no action.
Saudaraku, malas bukanlah jatah kita. Kita diciptakan Tuhan bukan untuk bermalas-malasan, tapi melawan kemalasan. Kita ditakdirkan untuk selalu bergerak, berlari…dan menang. Itulah fitrah hakiki kita. Dengan demikian, segala kemalasan harus dibuang sejauh-jauhnya dari sekarang juga. Karena kita bukanlah pemalas. Katakan tidak pada kemalasan, yess pada perubahan.
If we take action, the miracles happen! Salam dahsyat.

Sabtu, 28 Februari 2009

Renovasilah Idealisme, Wahai Mahasiswa!

oleh Ali Margosim Chaniago

Idealisme merupakan komitmen yang mengakar kuat dalam diri yang terwujud dalam berbagai sikap dan tindakan. Idealisme seolah-olah menjadi harga diri bagi mahasiswa, dari dulunya hingga sekarang.
Idealisme mahasiswa dulu
Idealisme mereka terlihat pada berbagai pergerakan yang mereka lakukan. Dengan pergerakan yang terencana, tersusun rapi, dan dengan kesungguhan.
Pada zaman penjajahan Belanda, lahirlah gerakan Budi Utomo tahun 1908, dilanjutkan tercetusnya Sumpah Pemuda 28 oktober 1928. Kemudian, pergerakan mahasiswa angkatan ’66 yang meneriakkan Tritura(Tiga Tuntunan Rakyat), sekaligus penggulingan kekuasaan Soekarno, yang pada saat itu sudah ingin berkuasa seumur hidup. Angkatan ’74 yang menorehkan tinta sejarah MALARI (Malapetakan Lima Belas Januari) dengan tuntutan otonomisasi Negara dari intervensi asing dan penyikapan isu NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus). Gerakan mahasiswa Indonesia angkatan ’78 pun memberikan sumbangan sejarah dengan mengangkat isu realisasi demokrasi, transparansi, akuntabilitas, serta pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dengan icon menolak Soeharto sebagai calon presiden. Dan akhirnya, angkatan ’98 mampu menghancurkan kekuasaan bercorak militer dan represif rezim orde baru dibawah naungan rindangnya pohon beringin selama 32 tahun, Soeharto. Gerakan mahasiswa pun berlanjut ke tahun 2001 dengan pencabutan predikat presiden dari Gusdur, gitu aja kok repot! (dhedhi.wordpress.com/2007/10/30)
Para mahasiswa pada dekade ini kiranya layak berpredikat negarawan. Pergerakan mereka semata-mata untuk negara. Sesuai dengan fitrah idealisme mereka, yakni merindukan negara yang aman, damai, makmur, dan berwibawa.
Idealisme mahasiswa sekarang
Idealisme mahasiswa sekarang telah diwarnai oleh kemilau kepentingan semu. Idealisme mereka terpecah menjadi dua bagian. Pertama, mereka yang terus mengusung pergerakan. Pada kenyataannya, mereka yang seperti itu juga terpecah lagi menjadi dua golongan, yaitu dirinya untuk pergerakan, dan pergerakan untuk dirinya.
Mereka yang menobatkan dirinya untuk pergerakan. Merekalah orang yang jujur, tidak munafik, memegang prinsip, dan istiqomah. Benar tetap benar, dan salah tetap salah. Merekalah mahasiswa yang dirindukan kehadirannya oleh negara ini, guna memperbaiki keterpurukan bangsa ini. Merekalah mahasiswa yang menegarawan.
Lalu, bagaimana pula dengan pergerakan untuk dirinya. Inilah yang membuat kita patut bersedih. Hal ini bisa dilihat pada beberapa Petinggi BEM(Badan Eksekutif Mahasiswa), dan lembaga lainnya pada suatu Universitas di tanah air ini. Seketika aksi demontrasi, mereka bermulut lantang, menentang kebijakan-kebijakan yang melindas masyarakat, hingga sampai-sampai mereka menjadi poros penentang dari masyarakat terhadap suatu partai yang berkuasa. Tapi kenyataannya, setelah diketahui bermulut besar oleh suatu partai tertentu, lalu mereka dipinang, mereka tak beralasan untuk menolak.
Meminjam kata-kata Cecep Darmawan (dosen ilmu politik UPI),“Kalau dulu pemuda itu satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa, maka sekarang pemuda itu satu rupiah. Artinya, dipersatukan oleh rupiah untuk melakukan suatu tindakan”. Kita boleh merinding mendengarkan pernyataan itu. Tapi, pada kenyataannya memang ada banyak mahasiswa yang turun ke jalan untuk demonstrasi karena didalangi oleh seseorang, atau sekelompok orang. Lalu, dimanakah ldealisme kita sebagai mahasiswa?
Kedua, mahasiswa EGP(Emang Gue Pikirin). Mereka mahasiswa egosentris, yang hanya mengutamakan egonya, individualistik. Di kampus, mereka terkenal dengan study oriented-nya, sehingga tidak mau tahu dengan dengan permasalahan bangsanya. Efeknya, lahirlah para generasi muda yang rapuh jiwa nasionalismenya.
Hal itu seiring-sejalan dengan tradisi kampus-kampus di negeri ini yang seolah-olah menjadikan nilai sebagai segala-galanya, bukan keprofesionalan. Selanjutnya, juga mengisyaratkan bahwa mahasiswa seolah-olah diarahkan jadi buruh, bukan pencipta lapangan pekerjaan. Inilah kesalahan fatal kampus-kampus di Indonesia yang terkesan mengadopsi sistem pendidikan kapitalis. Akibatnya, alih-alih akan berpikir untuk negara, memikirkan dirinya sendiri, tidak klop-klop. Lalu, dimanakah ldealisme itu?
Harapan buat mahasiswa
Mahasiswa sebagai agent of change (agen perubah), sangat dirindukan membawa perubahan yang berarti buat negeri dan bangsa ini. Sesuai dengan idealisme awalnya, yaitu merindukan negara yang aman, damai, makmur, dan berwibawa. Mahasiswa sebagai moral force (kekuatan moral), sedang ditunggu gebrakannya dalam menuranikan bangsa ini, yang tentunya diawali dari mahasiswa itu sendiri.
Keterpurukan bangsa ini akan berakhir bila segenap mahasiswa berani kembali ke idealisme sejatinya. Hanya dengan itulah, harapan negeri ini akan masih ada. Mahasiswa, ujung tombak penyelamat bangsa.
(Penulis adalah Pengamat pergerakan Mahasiswa)

Bagi semut saja, kecil tak berarti lemah!


oleh Ali Margosim Chaniago

Saudaraku, pernahkah mendengar cerita bagaimana semut mengalahkan gajah bahkan

membunuhnya hanya dalam hitungan menit? Cerita ini, cerita yang sangat menginspirasi saya

ketika di Sekolah Dasar. Saya yang sebelumnya tidak mau berbagi kue dengan teman, saking

pelitnya, akhirnya berubah total. Ceritanya begini :

Di sore hari, pada sebuah negeri tak bernama. Seekor semut duduk bersandar di atas

batu. Ia menatap ke bawah, dari kejauhan dengan ketinggian yang tak bisa ia kira seketika itu,

terlihatlah negerinya yang begitu indah. Sang semut menamakan dengan Kampung Damai

Indosemut. Si semut tersenyum lepas seraya berdoa : ”Jayalah kau kampungku, damailah kau

negeriku, sentosalah negeriku, lahirlah putra-putri bermoral sebanyak-banyaknya!..” Ia

terhentak.

Lantungan kaki yang keras, menggema, seolah-olah bumi sekitarnya bergoyang. Si

semut membalikkan badannya. Matanya terbelalak.

”Hei si kerdil malang, sedang apa kau disini?” tanya gajah dengan angkuhnya.

”Saya sedang melakukan perjalanan pulang sehabis dari barat daya.”

”Apa urusan kau?” tanya gajah lagi dengan angkuh tak berkurang.

”Mencari tahu sumber makanan yang melimpah.”

”Apakah kau hanya sendiri?”

”Ya untuk arah sini memang saya sendiri. Dan, para jenderal yang lain ada yang ke

timur, utara, selatan, tenggara dan barat laut.

”Wow..., hehehe.” Dengan nada sinis, si gajah melanjutkan pembicaraannya. ”Untuk

apa kau bersusah payah untuk negeri yang hanya seluas onggokan tahi saya itu ? Apakah kau

tidak ada pekerjaan sama sekali?” Ejek sang gajah.

”Tak peduli seluas dan sehebat apapun orang lain. Negeri kami adalah harga diri kami,

harga diri saya.’

”Ha..ha...ha. Seberapa berhargakah negerimu itu?” tanya gajah yang tak berkurang

angkuhnya itu.

”NYAWA KAMI.”

”Wow.... Tahukah kamu bahwa saya sangat benci dengan semut??”

”Tidak. Yang kami tahu kau selalu membunuh ratusan anak-anak kami di jalan-jalan, di

rumah-rumah mereka, di tempat permainan mereka hampir tiap harinya dengan kaki lebarmu

itu di berbagai negeri kami. Selama ini kami bersabar, karena kami menyadari bahwa kami

sangat kecil.”

”Lalu, apa yang kau banggakan?” tanya gajah kian brutal.

”Jumlah kami yang banyak. Tiap harinya, lahir jutaan putra-putri kami jutaan ekor.

Dan, kami kompak.” jawab semut terlihat senang.

”Hah, besok pagi akan kau amati bahwa seluruh negerimu akan lenyap!”

”Boleh, asalkan kau langkahi dulu mayatku!!!” teriaknya keras.

Gajah mengangkat kakinya hendak menginjak si semut jenderal itu. Tiba-tiba,

”Membunuhmu tak berarti apa-apa.”

”Dasar pengecut. Kau hanya tumpukan daging yang pengecut.” teriak semut

mengamati gajah yang meninggalkannya dengan cekikikan. ”Saksikanlah besok pagi, hei

makhluk tak beruntung.”

”Langkahi dulu mayatku.... langkahi dulu mayatku.... langkahi dulu mayatku.... langkahi

dulu mayatku...., langkahi dulu mayatku.”

Besok paginya...

Jutaan tentara semut telah ambil posisi. Ada yang bersiap di pintu gerbang negerinya,

bersembunyi dibalik daun berketinggian satu meter, satu setengah meter yang menargetkan

telinga lebar si raksasa, ribuan diatas menara yang siap syahid dengan melompat dengan

target hidung dan mata si raksasa, dan ratusan ranjau berupa parit berlubang.

Kabar terakhir : Gajah terkapar tak berdaya di Kampung Damai Indosemut, hingga

menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dari telinganya yang lebar itu keluar ratusan semut.

Dari hidungnya semut keluar seraya meneriakkan takbir kemenangan.

”Hidup Jenderal!” teriak rakyatnya.

”Damailah negeriku, sentosalah rakyatku!!!” doa sang jenderal. Wallahualam

bisshowab!

Dikarenakan Kita Mau, Maka Kita Bisa!

oleh Ali Margosim Chaniago

Dua kisah pembangun jiwa kepahlawanan buat mereka yang tak ingin hidup apa adanya.

al kisah pertama, seorang gadis bernama Wilmarudo, berkebangsaan Jepang. Sejak lahir ia telah lumpuh. Pada umur 9 tahun, ia belum bisa berdiri, apalagi berjalan. Tapi, si Wilmarudo ini ngotot ke mamanya. Ia selalu minta untuk diperiksa perkembangan fisiknya. Dan, ia katakan bahwa ia harus bisa berjalan dengan normal. Orang tuanya mengikuti kemauan anaknya itu. Dan, para dokter selalu mengatakan bahwa Wilmarudo tidak akan bisa berjalan seumur hidupnya.

Kesedihan meliputi hati gadis kecil itu. Namum, ia tetap berpengharaapan besar. Wajahnya menunjukkan hal demikian. Suatu hari mamanya mengatakan,”Wilmarudo, kalau anda yakin bahwa anda pasti bisa berjalan, maka Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan hambaNya.” Wilmarudo mengatakan dengan optimis,”Kalau begitu, suatu saat aku akan menjadi pelari wanita tercepat di dunia...”

Semenjak itu, ia selalu berjalan dengan duduk. Ia lakukan dengan penuh kegigihan. Kemudian belajar berdiri. Dengan memakai alat bantu ia belajar berjalan dengan tertatih-tatih. Ia melakukan hal itu sepanjang waktu.

Beberapa tahun kemudian, ia belajar berlari. Setiap kali jatuh, ia pasti bangun. Semua ini memang tidak gampang, butuh waktu yang lama. Namum, semangat mengalahkan rasa capek, bosan, dan lamanya berproses.

Suatu ketika ada lomba lari wanita di Jepang. Gadis itu pun ikut. Ia berada pada urutan terakhir. Dalam event yang sama, ia gagal terus. Banyak orang mengatakan,”Dasar tidak tahu diri, sudah gagal terus, ikut juga.”

Wilmarudo tidak berhenti. Ia terus berjuang. Pada suatu saat, Tuhan mengabulkan doanya. Pada event yang sama, ia menjadi pelari tercepat di negaranya. Selanjutnuya, ia mampu mengumpulkan tiga medali Pelari Wanita Tercepat di dunia. Subhanallah....!(Dikutip dari kaset"Impian",Louis Tendean)

Al kisah kedua, dikutip dari cerita masyarakat Minang. Cerita ini dari mulut ke mulut. Tidak dibukukan. Namum, amat populer. Dulu, di negeri Minang seorang anak lelaki bernama Bujang. Bujang di pondokkan Orang tuanya di salah satu rumah Syekh. Bertahun sudah ia mengaji. Namum, juz ’amma pun juga belum khatam. Syekh pun kewalahan dengannya. Sudah nggak pintar, juga amat nakal.

Bujang amat kagum dengan teman-temannya yang fasih bacaan Alqur’annya. Tiap harinya, Si Bujang masih saja mengulangi Juz ’amma. Syekh pun kerap kali memintanya untuk mengulang kembali ke ”Alif Ba Ta...” Akhirnya, teman-teman seangkatannya memanggilnya dengan sapaan Ali Ba. Bujang merasa terpojokkan dengan sendirinya.

Suatu pagi Syekh memerintahkan para santri untuk kerja bakti. Bujang tidak ikut. Ia berdiam diri dalam kamar. Ia mengemas semua barang-barangnya. Kemudian, ia melarikan diri lewat pintu belakang. Perjalanan yang akan ia tempuh, amat jauh. Dengan berjalan kaki, akan menghabiskan waktu 10 jam. Jalan yang ditempuh berkerikil besar. Dan di pinggir-pinggir jalan tersebut adalah hutan lebat. Cukup berbahaya. Ketika itu masih banyak ditemukan beruang.

6 jam, ia telah berjalan. Badan terasa capek, dan terik matahari yang melemaskan. Ia mampir di pinggir jalan. Ia mencari tempat duduk yang aman. Terlihatlah olehnya ada terowongan, menyerupai gua kecil. Ia tertidur. Datanglah Syekh Burhanudin. Syekh itu berkata,”Bujang, lihatlah air yang menetes itu.(Syekh menunjuk ke air yang menetes, yang dibelakangi Bujang itu. Jaraknya dua meter dari Bujang). Syekh menghilang. Bujang terbangun. Tanpa banyak pikir, mimpi yang membekas di hatinya itu membuat ia penasaran. Ia amati air yang menetes tersebut. Sebuah tetesan air itu mampu melubangi batu hitam yang amat keras tersebut. Hingga pada batu itu terdapat kolam kecil, yang ada makluknya. Nasehat Syekh yang amat mendalam. Air yang begitu lembut, tetesannya kecil mampu melubangi batu hitam pekat yang amat keras ini...” inilah yang terbaca olehnya, ”Mungkin inilah yang dimaksud Syekh. Aku tidak boleh putus asa,” tambahnya lagi.

Ia merenung sambil memukulkan ranting-ranting kayu lapuk ke tanah. ”Mungkin 2 tahun sebelumnya adalah tahap persiapan bagiku untuk menjadi Qori terbaik di seantero negeri ini”. Bujang berbalik arah. Ia kembali lagi ke pondok ngajinya.

5 tahun kemudian, nagari kami kedatangan Qori Internasional sekaligus Buya yang amat halus dan bijak perkataannya. Buya muda tersebut baru pulang dari Mekah. Ia diundang raja Abdullah, dalam pesta syukuran raja. Dialah Qorinya. Buya muda itu bernama Abdullah Ali Mufidz.(Dikutip dari cerita masyarakat Minangkabau, dari mulut ke mulut)

Disebabkan Harapan itu Masih Ada!

oleh Ali Margosim Chaniago

Saudaraku, pernahkah kita merenung sejenak untuk negeri ini? Untuk umat ini? Kita benar-benar sedih. Air mata mengalir begitu tak terasa, bathin kita seolah-olah memberontak, jiwa kita meletup-letup, berdecak-decak, berdentum-dentum, berharap akan terwujud akan sebuah perubahan yang berarti. Bukan sekedar reformasi, yang kian lama kian tak berarti, seperti kacang tanpa isi.
Mari kita amati. Kemerdekaan bangsa ini, RI, semenjak tahun 1945 hingga sekarang 2008. Tiap tahun, tepatnya 17 agustus, kita merayakan kemerdekaan. Di berbagai tempat, perayaan kemerekaan diselenggarakan. Tidak luput juga di istana kepresidenan. Bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya yang notabene telah diakui secara de facto dan dejure. Nah, permasalahannya adalah benarkah bangsa ini sudah merdeka ?Sudahkah kita merayakan kemerdekaan itu dengan hati yang benar-benar merdeka? Maksud saya dengan hati yang tenang, lapang dan bahagia? Sekali lagi, usaplah dada kita, tanyakan, dan dengarkanlah jawabannya.
Saudaraku, menurut hemat saya, sampai detik ini lingkaran syethan penjajahan belum berakhir di negeri ini. Bangsa Indonesia masih terjajah sampai sekarang. Penjajahan dewasa ini lebih kompleks dan dampaknya lebih ganas. Ada banyak bangsa yang telah menjajah dan akan mau menjajah negeri ini. Kita namakan penjajahan non fisik, halus, sering membuat kita tertawa, tersanjung, namum mematikan. Lebih galak lagi dari virus Trojan di komputer anda. Sebelum kemerdekaan kita mengakui bahwa kita sedang dijajah. Namum sekarang, kebanyakan diantara kita seolah-olah tidak mengakui bahwa kita sedang dijajah karena tidak tahu.
Penjajahan ideologi, budaya, politik dan ekonomi sudah nampak nyata. Di bidang ideologi, dimanakah kini Pancasila yang notabene adalah ideologi bangsa ini. Di bidang politik, bukankah sebagian besar pemimpin negeri ini didikte oleh para pemimpin negara-negara barat sana. Di bidang ekonomi, cermatilah PT Freeport MC Moran Indonesia, milik pengusaha USA, yang telah bercokol puluhan tahun di negeri ini. Setiap harinya Freeport menjarah 200 kg emas murni( 24 karat ) dari tanah Irian Jaya. Mereka (pihak PT Freeport) telah membangun pipa raksasa sepanjang 70 KM yang berujung di Laut Arafuru. Di sana mereka membongkar emas, yang kemudian diangkut ke negerinya. Sesuai dengan kontrak karya II, Indonesia-Freeport, pihak Freeport akan terus seperti itu hinggga 2041. Tahukah kita, berapa bagian untuk Indonesia? Hanya 7 %, dan 93 % untuk mereka( Freeport).
Saudaraku, bukit yang ditumbuhi emas itu hanya menunggu waktu berubah menjadi lembah mematikan yang dihujani salju. Tidak hanya itu, limbah dari PT Freeport bila ditimbunkan ke kota Jakarta, Depok dan Bekasi. Maka tertimbunlah ketiga daerah itu setinggi 5 meter. Catatan berikutnya, limbah itu beracun dan menggersangkan tanah. Tahukah kita, bahwa banyak warga Irian yang menentang korporatokrasi ini hilang tanpa jejak? Tahukah anda kenapa pihak birokrasi mulai dari pemerintah dusun hingga presiden bahkan DPR hanya sebagai penonton?jawabannya, sungguh membuat emosi kita membludak. Sungguh, kita negara yang miskin ini, sudah memperkaya bangsa asing dengan kemewahan yang tak terhitung. Sementara saudara kita di Irian Jaya sekarang masih pakai koteka, karena sulitnya uang untuk membeli pakaian. Oleh sebab itu, seharusnya bangsa ini menangis di setiap 17 agustus untuk merenungi kezaliman ini?dan…merubahnya.
Tahukah kita tentang tambang gas kita di kepulauan Natuna. Ribuan ton gas dialirkan lewat pipa raksasa dengan panjang berkilo-kilometer, yang tembusnya ke Singapura? Berapakah untuk Indonesia? 0 %. Begitulah ulah PT. Exon Mobile yang diaminkan pemerintah negeri ini. Tahukah kita gaji seorang Lee Raymond, Direktur PT Exon Mobile selama 13 tahun di Indonesia? 6 Trilyun, 178 Milyar Rupiah. Sementara masyarakat kita, untuk makan saja tak sedikit yang makan nasi akik. Tahukah kita tentang pertambangan minyak Blok Cepu, Pertambangan minyak di Caltex, de el el yang taka mungkin saya tulis semuanya. Saya kira itulah kebobrokan bangsa ini bagian pertama. Bagian berikutnya, amatilah tingkat kebobrokan moral di negeri yang lagi-lagi menamakan diri dengan bangsa yang ramah tamah, dan berwibawa ini. Kita dengan gampang mengamati bahwa dua penyakit bahaya yang pernah disitir oleh Rasulullah saw telah telah terbukti adanya. Itulah penyakit Wahn.
Rasulullah saw bersabda :”Akan datang masa dimana kamu diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkuk.”Para sahabat bertanya,”Apakah saat itu jumlah kami sedikit ya Rasul?”Rasulullah saw bersabda, “Tidak, bahkan saat itu jumlahmu sangat banyak, tetapi seperti buih di lautan karena kamu tertimpa penyakit wahn. Sahabat bertanya,”Apakah penyakit wahn itu ya Rasul ?” Beliau menjawab,”Penyakit wahn itu adalah cinta dunia dan takut mati.”(HR. Bukhari Muslim)
Saudaraku, kiranya inilah jawaban yang tepat kenapa umat muslim pada umumnya dan Indonesia khususnya terpuruk dewasa ini. Jawabannya adalah dikarenakan sifat cinta dunia dan takut mati telah mengakar di lubuk hati umat ini. Akibatnya , realita berbicara, munculnya pemimpin yang korup alias rakus dan tamak, masyarakat yanag jauh dari syariat Allah.
Allah swt berfirman :”Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan,…Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” ( QS. Al hadid 20)
Saudaraku, walau sebobrok apapun bangsa ini, kita tidak boleh berputus asa dari rahmad Allah. Bukankah kita terlahir untuk merubah kebobrokan itu?Ya, kitalah yang ditunggu-tunggu oleh ibu pertiwi. Negeri yang sedang meratap ini sedang melambaikan tangan kepada kita. Lihatlah. Oleh karena itu, mari kita ingatkan saudara-saudara kita yang lain tentang ini. Inilah jalannya, yaitu dakwah. Allah swt berfirman ,”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makhruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”(QS. Ali imran 110)
Saudaraku, bukankah Presiden Ir.Soekarno juga telah berpesan kepada kita.”Kutitipkan negeri ini padamu.” Ya. Kepada kita saudara-saudaraku, kader-kader dakwah. Mari kita wujudkan harapan negeri ini, songsong perubahan yang berarti utuk negeri ini. Saudaraku, tataplah dirimu, negerimu, dan harapan itu masih ada. Wallahualam! (Dari berbagai sumber, Ali margosim chaniago, Pengurus FLP Semarang)

Mari Bermimpi, Agar Kita Maju Saat ini Juga!

oleh Ali Margosim Chaniago

Bolehkah bermimpi? Siapa yang melarang. Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa telah menganugerahkan mimpi kepada setiap hambaNya. Artinya mimpi itu adalah fitrah dari Allah. Nah, setiap orang yang bermimpi adalah pertanda rahmad dari Allah. Maka setiap kita bermimpi, kita harus bersyukur kepadaNya. Seperti apa mimpi yang harus disyukuri itu. Banyak ustazd mengatakan, mimpi yang dimaksud adalah mimpi yang memotivasi, membahagiakan, menyadarkan(Ehm...alias insyaf ba’da bermimpi). Sebab, mimpi seperti itu adalah mimpi yang dibimbing oleh Allah SWT.
Mimpi adalah hiasan tidur, ujar Ibu saya. Saya nggak tahu, kalimat itu beliau kutip dari mana. Tapi, amat benar. Rasanya, kalau tidur tanpa mimpi seperti padi hampa, tidak bernas. Tidak ada kesan yang mendalam. Padahal, salah seorang Al Ustazd dari Minang mengatakan bahwa tidur itu adalah mati seketika. Ruh kita menghadap keharibaan Allah untuk sementara. Ngapain,ya?Ya...nggak tahu. Itu sih yang tahu hanya Allah, sebab Dialah yang menguasai jiwa, raga, dan alam semesta ini. Kita tinggal mengaminkan kehendak Allah SWT. Tapi, jangan khawatir, Sobat!! Udah tahukan bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?
Lebih kurang 8 jam, tidur versi dokter. 4 jam versi Imam Syafi’i, dan beberapa ulama besar dunia lainnya. Nah, beberapa jam tersebut agar ruh kita mendapat bimbingan dari Allah, maka selaku muslim dianjurkan berdo’a.
Aku kutip dalam kitab Durratun Nashihin. Rasulullah Saw, berkata kepada Aisyah.”Wahai Aisyah, janganlah kamu tidur diatas ranjangmu, sebelum kamu menunaikan 4 hal berikut: Pertama, mengkhatamkan Al qur’an 30 juz. Kedua, Haji dan Umrah ke Baitullah. Ketiga, meminta salam kepada Rasulullah. Keempat, menyalami kaum muslimin.” Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu yang kau maksud?” Rasululllah Saw menjawab,”Pertama, bacalah Surat Al Ikhlas tiga kali. Kedua, ucapkanlah tasbih-tahmid dan tahlil tiga kali. Ketiga, bacalah shaalawat kepadaku. Keempat, ucapkanlah do’a untuk kaum muslimin.”(Al Hadist)
Sobat!InsyaAllah, kamu akan tidur dalam bimbinganNya. Dan, selamat bermimpi dalam rahmadNya. Siapa tahu kita-kita yang masih jahiliyah mendapatkan ilham dari Allah berubah total, dan menjadi pemenang. Bisa saja kan?

Sobat!Bagaimana dengan mimpi horor? Ba’da bermimpi, keringat kuning bercucuran, mata bengkak, badan benar-benar capek, nafas terengah-engah. Seharian merana. Sibuk memikirkannya. Wah busyett...!So, jangan lupa berdo’a.
Sobat!Mimpi adalah hiasan hidup. Bagaimana dengan yang dihias, alias Si Pemimpi. Adakalahnya kata Si Pemimpi kurang tepat digunakan. Karena kata itu biasanya digunakan untuk yang bersipat jamak. Tapi, tidak apa-apa. Bagi saya itu sah-sah saja digunakan. Alasannya, saya yakin sobat sering bermimpi baik siang hari maupun malam hari. Baik ketika tidur maupun ketika duduk sendirian. Melamun maksud saya. Ini sudah mimpi yang amat dahsyat. Pada saat itu, dalam waktu yang sekejab, saudara sudah melalang buana ke Negeri Kangguru(Australia) terus ke kanan menuju Negeri Hugo Chavez(Venezuela), terus ke negeri Paman Sam(Amerika Serikat), terus ke negeri Mendiang Putri Diana(Inggris), belok ke Bekas negeri Fir’aun(Mesir), next...Ka’batullah terus ke Semarang lagi. Bahkan lebih dahsyat lagi saudara berpiknik ke langit pertama ketemu dewa burung. Langit kedua ketemu dewa angin. Langit ketiga ketemu dewa air. Hingga ke langit ketuju, ketemu dengan dewa tertinggi. Maaf, nih menurut teman-temanku yang Hindu.
Kunjungan yang luar biasa. Bahkan ada teman saya dalam waktu tujuh menit. Ia telah menakhlukan perjalanan ke Surga dan Neraka. Sayangnya, ia kesana tidak bawa sandal. Akhirnya...nggak bisa singgah di surga. Padahal, ia sudah amat berharap seperti Nabi Idris(He he he maaf). Nabi Idris dan surga Firdaus. Nabi Idris dengan sengaja meninggalkan sandalnya di surga. Agar ia bisa berbalik lagi melihat surga. Ingat hanya untuk melihat. Dan tertinggalnya sandal itu bisa menjadi alasan kepada malaikat Ridwan untuk masuk lagi ke surga. Kalau tidak demikian, ia tidak akan dapat melihat lagi. Sebab, waktu pasportnya dah habis. Perjanjian dengan malaikat Jibril sudah mendekati deadline. Apa boleh buat.
Sobat!
Nabi Idris berhasil. Ia diberi kesempatan untuk kedua kalinya menginjakkan kakinya di surga. Jika Allah mengizinkan. Ia akan masuk surga yang ketiga kalinya sesudah kiamat. Luar biasa. Ialah Nabi yang mampu memecahkan rekor ke surga. Ngambil sandal kelamaan...akhirnya, Nabi Idris mendapat teguran dari Allah. Karena Allah, maka Nabi Idris kehabisan nyali. Ia kembali ke bumi. Ruhnya kembali menyatu dengan jasad. ”Alhamdulillah...”ujarnya.
Sobat!Cerita di atas saya kutip dari perkataan seorang Ulama dari Minang. Materi ini saya dapatkan saat kajian rutin malam jumat.
Kembali ke pemimpi!Sobat senang memimpikan apa? Apakah pernah seperti yang saya terakan diatas? Nih, saya akan bercerita tentang seorang pemimpi. Ia masih bujangan. Ia sedang menimba ilmunya di negeri rantau ini.
Pagi hari yang amat indah. Mentari pagi di kota ini menyeruak ke setiap celah. Menerangi kota dan jiwa-jiwa yang bersungkur. Embun pagi sebening permata jatuh berderai ke bumi khatulistiwa. Mengkilau diterpa mentari menyilaukan mata. Indah. Bunga melati indah. Semerbak harum mewangi mengalir ke hati. Di taman itu seorang Pujangga berdiri. Untaian kata-katanya, dan bisikan hatinya pada dunia ini:
”Andaikan suatu saat saya menjadi pemimpin di negeri ini. Saya tidak rela di pagi nan indah ini melihat anak-anak meminta-minta. Bapak-bapak meminta-minta. Ibu-ibu meminta-minta. Anak-anak meminta. Saya tidak rela melihat para pemulung berkeliaran semenjak shubuh. Pagi nan indah jangan dikotori. Saya akan mengumpulkan mereka di kantor gubernur. Saya akan memaksa mereka olah raga pagi bersama saya, makan pagi bersama saya, bersenda gurau dengan saya, berbagi cerita dengan saya, dan berdoa bersama yang dipimpin oleh Kiyai. Selanjutnya, saya mengundang mereka tiap awal bulan. Dan, saya mewajibkan seluruh perangkat pemerintah daerah hadir dengan membawa amplop masing-masing. Semua pejabat harus memilih salah satu diantara mereka sebagai teman bercerita selama tiga jam tersebut. Pejabat yang sukses parameternya adalah siapa yang paling dicintai, disayangi oleh para pemulung, anak yatim, anak terlantar, dan kakek-nenek jompo tersebut. Saya akan membentuk tim khusus penilai yang independent.
Para anggota dewan yang katanya wakil rakyat itu juga saya himbau. Semoga ia semakin sadar. Sebenarnya dia duduk di gedung itu untuk apa. Untuk kekayaannnya atau untuk kesejahteraan rakyatnya. Selamat rakyat...
Kalau tidak ditakdirkan jadi pemimpin. Saya lebih memilih jadi pengusaha. Saya akan memulainya dengan usaha kecil-kecil dulu. Seperti perkebunan Lidah buaya, coklat, cengkeh. Mungkin awalnya cukup dengan sepuluh karyawan. Mereka yang bekerja dengan saya adalah orang-orang desa yang berekonomi lemah. Mereka akan saya didik untuk terampil, jujur, dan disiplin, dan saling berkasih sayang. Tidak cukup itu, mereka saya didik untuk shalat yang khusuk, giat tadarus, dan suka membantu orang lain. Nah, untuk mewujudkan ini saya akan meminta mereka ikut kajian di rumah saya. Yang bisa saya sendiri yang medidik, dan kuundang para Kiyai, Syekh, atau Ustazd. Harapan saya, mereka tidak hanya diberi gaji tapi juga dikokohkan imannya, akhlaknya, dan ilmunya. Saya bilang ke mereka bahwa kita adalah satu keluarga. Untung saya adalah untung mereka. Dan rugi mereka juga rugi saya.
Ehmmm...kalau takdir Allah lain. Saya ditakdirkan jadi PNS(Pegawai Negeri Sipil). Maka saya harus disiplin, jujur, dan kerja keras. Saya harus datang tepat waktu. Saya tidak mau mengurangi jam kerja, dan untuk menambahinya pun kalau saya mampu. Katakanlah waktu dinas di kantor 7 jam. Saya harus 7 jam. Sebab, bila saya menguranginya berarti saya berdosa. Gaji yang saya terima tidaklah halal bila saya curang sekalipun itu uang negara. Ketahuilah uang negara adalah uang rakyat. Rakyat saja yang mati-mati membayar pajak ini dan itu, banyak yang mati busung lapar. Kekurangan gizi, tidak mencicipi pendidikan layaknya seperti saya. Ah...saya malu. Kalau saya curang, saya jauh lebih hina dari pada yang berkaki empat.
Saya harus jujur. Milik kantor adaalah milik kantor, sekalipun itu hanya sebuah pena. Saya tahu bahwa itu bukan milik saya. Pada suatu saat nanti saya akan ditanya tentang pena itu. Dengan apa harus saya jawab, karena memang bukan milik saya. Tapi, milik rakyat.
Saya harus kerja keras. Karena saya manusia yang beruntung, bisa mencicipi dunia pendidikan. Padahal, rakyat banyak yang tidak bisa sekolah karena tidak ada biaya. Saya tahu, saya bisa sekolah dengan enjoy karena disubsidi rakyat...Oh, rakyat...saya akan bekerja keras untukmu...”
Sang pujangga itu terbangun dari lamunannya. Ia bermimpi menjadi seorang gubernur yang langka di bumi seantero ini. Ia bermimpi menjadi pengusaha yang berhati emas. Ia bermimpi menjadi PNS yang amanah. Kita berdoa kepada Allah semoga Allah mengabulkan salah satu mimpinya, dan juga mimpi-mimpi kita. Amin Ya Rabbul ‘Alamin....